Tampilkan postingan dengan label Pelajaran SMP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pelajaran SMP. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Januari 2015

Kalimat Tunggal



Kalimat Tunggal

Kalimat tunggal adalah kalimat yang terdiri atas satu klausa. Satu klausa tersebut ditandai oleh satu pola S (Subjek) dan satu P (Predikat). Adapun O (Objek), Pel (Pelengkap), dan K (Keterangan) keberadaannya bisa ada atau tidak ada.
Berdasarkan keberadaan P-nya, kalimat dapat digolongkan menjadi beberapa macam, yaitu :
A. Kalimat Nominal,
B. Kalimat Verbal,
C. Kalimat Ajektival,
D. Kalimat Numeral,
E. Kalimat Preposisional,
F. Kalimat Masdar.


A. Kalimat Nominal
Kalimat Nominal adalah kalimat yang P-nya berupa kata benda.
Misalnya :
a. Ayahnya sopir di kampungnya.   
        S           P            K
b. Ibunya guru di SMA 16.
       S         P          K
c. Kakaknya pedagang asongan.
          S                   P
d. Adiknya pemain bola.
         S              P


Kata-kata : sopir, guru, pedagang asongan, dan pemain bola adalah kata benda. Kalimat-kalimat tersebut sudah memenuhi syarat sebagai kalimat baku karena minimal sudah memiliki S-P. Kalimat-kalimat di atas sering disisipi ‘adalah atau ialah’ sebagai kopula untuk memperjelas kedudukannya sebagai P untuk kata sesudahnya.

B. Kalimat Verbal
Kalimat Verbal adalah kalimat yang P-nya berupa kata kerja. Kalimat verbal dapat digolongkan lagi menjadi 4 macam, yaitu :
a. Kalimat Taktransitif
Kalimat ini hanya berpola S-P, tanpa diikuti unsur O, maupun Pel, namun bisa ditambahkan K.
Contoh :
(1) Ia tidur di kantin.
      S   P        K
(2) Mereka pergi ke Makasar.
          S         P         K
(3) Anisa menangis kemarin.
          S        P            K
(4) Imam makan.
         S        P


b. Kalimat Ekatransitif
Kalimat ini berpola S-P-O, tanpa diikuti Pel, namun bisa ditambahkan K
Contoh :
(1) Romy menarik paku dari ban motornya.
         S         P         O            K
(2) Erwin memotong kabel listrik kemarin.
         S          P                 O           K
(3) Joni menangisi kepergian adiknya.
        S         P                 O
(4) Mereka menulis surat protes kepada panita.
           S         P             O                 K


c. Kalimat Dwitransitif  
Kalimat ini berpola S-P-O-Pel, namun bisa ditambahkan K
Contoh :
(1) Ayah membelikan adik baju baru kemarin.
        S          P             O         Pel        K
(2) Dia menjuluki pacarnya “Kucing Garong”.
        S        P            O               Pel
(3) Mereka mengijinkan kami buka suara.
          S             P             O       Pel
(4) Kami menyatakan hal itu salah alamat.
         S           P              O         Pel


d. Kalimat Semitransitif
Kalimat ini berpola S-P-Pel, tanpa O, boleh ditambahkan K.
Contoh :     
(1) Anak itu bermain bola.
            S           P      Pel
(2) Mereka berjualan koran di perempatan jalan.
          S           P           Pel           K
(3) Kakek kejatuhan kelapa di kebun.
          S          P           Pel      K
(4) Keputusan itu berdasarkan musyawarah.
               S               P                   Pel
(5) Hal itu merupakan konsekwensi kita.
          S         P                   Pel
(6) Sekarang ia menjadi bupati.
            K      S     P         Pel

C. Kalimat Ajektival

Kalimat ajektival adalah kalimat yang P-nya berupa kata sifat.
Contoh :
(1) Adiknya cantik.
           S         P
(2) Guru itu sangat ramah.
          S             P   
(3) Rumahnya megah sekali.
             S             P
(4) Kakaknya sombong.
             S            P


Kata-kata : cantik, sangat ramah, megah sekali, dan sombong adalah kata sifat. Kalimat-kalimat tersebut juga sudah memenuhi syarat sebagai kalimat baku karena minimal sudah memiliki S-P.

D. Kalimat Numeral                      
Kalimat Numeral adalah kalimat yang P-nya berupa kata bilangan.
Misalnya :
(1) Mobilnya dua.
           S         P
(2) Yang hadir enam belas orang.
             S                 P
(3) Kerbaunya tujuh ekor.
             S             P
(4) Temannya tiga puluh anak per kelas.
            S                     P


Kata-kata : dua, enam belas orang, tujuh ekor, dan tiga puluh anak per kelas adalah kata bilangan. Karena itulah kalimat-kalimat tersebut dinamakan kalimat numeralia.

E. Kalimat Preposisional
Kalimat Preposisional adalah kalimat yang P-nya berupa kata depan.
Contoh :
(1) Ayahnya dari Jakarta.
           S             P
(2) Ibunya di SMA 16.
           S           P
(3) Kakaknya ke stasiun kota.
             S              P
(4) Adiknya di lapangan bola.
           S              P

Kata-kata : dari Jakarta, di SMA 16, ke stasiun kota, dan di lapangan bola adalah kata-kata yang berkata depan atau berpreposisi.

F. Kalimat Masdar
Pola kalimat sederhana bahasa Indonesia asli S-nya berupa kata benda, sementara P-nya boleh berupa kata benda, kata kerja, kata sifat, kata bilangan, maupun kata depan.
Namun demikian, dalam perkembangannya bahasa Indonesia tidak dapat menghindari pengaruh bahasa asing, khususnya bahasa Inggris termasuk pula dalam ragam kalimatnya.
Dalam bahasa Inggris dikenal gerund, yaitu kalimat yang subjeknya kata kerja.
Contoh :
(1) Fishing is my hobby.
           S             P
(2) Writing is very difficult for me.
            S             P

Berdasarkan hal tersebut, dalam bahasa Indonesia dikenal kalimat masdar, yaitu kalimat yang S-nya berupa kata kerja yang dianggap benda.
(1) Memancing adalah hobi saya.
            S                    P
(2) Menulis memang sulit.
          S             P
(3) Menonton bola mengasyikkan.
            S                         P
(4) Berlari melelahkan.         
           S          P     


Kata-kata : memancing, menulis, menonton bola, dan berlari adalah kata-kata kerja yang dianggap sebagai kata benda yaitu aktivitasnya.



Read More

Senin, 19 Januari 2015

MONOLOGUE TEXT



Monologue Text

MONOLOGUE TEXT

1. Report Text
Report Text adalah teks yang mendeskripsikan sesuatu atau benda-benda secara umum, contohnya berbagai benda atau fenomena alam, buatan dan sosial yang ada atau terjadi di lingkungan kita. Teks report mengupas suatu hasil pengamatan, penelaahan, penelitian, observasi, atau study tentang benda atau binatang, orang atau tempat.

Report Text hampir sama dengan Descriptive Text yang membedakan adalah objek yang diceritakan berbentuk jamak, sedangkan objek yang diceritakan pada Descriptive Text berbentuk tunggal.

Generic Structure Report Text adalah :
1. General classification (Klasifikasi umum) : pengantar tentang sesuatu atau fenomena yang akan dibahas.
2. Description (Deskripsi) : menerangkan sesuatu atau fenomena yang dibahas, meliputi bagian-bagian, kualitas dan perilaku.

Ciri-ciri Report Text adalah :
1. Menggunakan pola kalimat Simple Present Tense
2. Menggunakan kata benda umum (general nouns)
3. Menggunakan kata kerja yang saling berhubungan (relating verbs)
4. Terdiri dari sebuah objek ditambah objek tentang alam lainnya.
Contoh Report text :
Contoh Report Text

2. NARATIVE TEXT
Narrative Text adalah penggambaran dari peristiwa yang terjadi, yaitu tentang apa (what), oleh siapa (who) dimana (where) dan kapan peristiwa tersebut terjadi (where). Tujuan dari Narrative Text yaitu untuk bercerita ( telling a story). Mengapa kita bercerita? tentu saja untuk membuat orang lain tahu tentang peristiwa dalam cerita tersebut, menghibur orang lain dan untuk menyampaikan gagasan, nilai juga muatan moral tertentu.

1. Jenis-jenis Narrative Text
Narrative Text mempunyai inti cerita yang biasanya hanya berupa imajinasi penulis atau kejadian nyata yang ditangkap oleh penulis atau bahkan bisa gabungan keduanya. Dalam berbagai sumber Narrative Text dapat ditemui dalam bentuk :
a. fables (Cerita tentang binatang yang digambarkan berprilaku seperti manusia)
b. fairy stories (Cerita yang bersifat fantastik, penuh dengan keajaiban)
c. mysteries
d. science fiction
e. romances
f. horror stories
g. legends
h. historical narratives
i. personal experience (pengalaman pribadi yang ditulis)
j. ballads (balada, kisah yang bisa mengharukan pembaca, biasanya berupa cerita cinta yang tak sampai)

2. Struktur Narrative Text
Pada Narrative Text, susunannya adalah sebagai berikut :
a. Orientation
Yaitu pengenalan yang berupa : cerita tentang apa (what is the story about), siapa pelaku dalam cerita itu (who is the participant), dimana cerita itu terjadi (where is the place setting) dan kapan cerita itu terjadi (when is the time setting).
b. Complication atau Problem
Yaitu pada paragraf ini yang menjadi inti dari narrative text. Tanpa ada permasalahan, text ini hanyalah berupa paparan peristiwa satu yang diikuti dengan peristiwa yang lain. Masalah yang timbul dapat dibedakan menjadi :
- Natural Conflict
Yaitu permasalahan yang timbul karena pelaku cerita berhadapan dengan kekuatan alam.
- Social Conflict
Yaitu permasalahan yang timbul karena para pelaku itu saling berhadapan. Mereka bertemu pada waktu yang sama dengan berbeda kepentingan.
- Psychological Conflict
Yaitu Permasalahan yang timbul ketika pelaku cerita itu berhadapan dengan dirinya sendiri. Pertentangan antara nilai baik dan buruk, antara sifat rakus dan tenggang rasa.

Dalam Narrative text, setiap permasalahan yang muncul harus ada penyelesaiannya, bisa ditutup dengan akhir yang menyenangkan (happy ending) atau tidak sedikit berakhir tragis, menyedihkan (sad ending).

3. Ciri Kebahasaan Narrative Text
a. Narrative Text ditulis dengan sudut pandang orang pertama dan ketiga (first and third person point of view) yaitu : I, We, He, She, It
b. Ditulis dengan menggunakan action verbs, yaitu kata kerja yang menunjuk pada kegiatan aksi atau bergerak.
c. Pola kalimat umumnya kombinasi Past Tense. Yaitu berupa, Simple Past Tense, Past Continuous Tense, Past Perfect Tense. Masih jarang ditemui narrative text yang menggunakan Past Future Tense.
d. Menggunakan Direct Speech dan Indirect Speech (kalimat langsung dan tidak langsung)
e. Memakai bahasa imagery. Yaitu berupa :
- Personification : Memberikan gambaran benda tidak hidup seolah-olah seperti manusia.
- Methapor : Memberikan gambaran perbandingan yang tersirat dalam obyek yang lain.
- Smile : Memberikan gambaran langsung yang tersurat.
Contoh :
Contoh Narrative Text


3. RECOUNT TEXT

Recount Text adalah salah satu jenis text dalam bahasa Inggris yang menceritakan kembali tentang kejadian-kejadian atau pengalaman-pengalaman di masa lampau. Tujuan dari Recount Text adalah untuk memberikan informasi atau untuk menghibur pembaca sehingga tidak terdapat konflik.

1. Macam-macam Recount Text :
a. Personal Recount
Yaitu menceritakan tentang pengalaman pribadi penulis
b. Factual Recount
Yaitu laporan peristiwa yang benar-benar terjadi, seperti laporan percobaan ilmu pengetahuan, laporan kepolisian.
c. Imaginative
Yaitu membuat cerita imaginative lalu menuliskan peristiwa atau kejadian yang telah terjadi.

2. Struktur Recount Text adalah sebagai berikut :
a. Orientation
Yaitu pengenalan berupa memberikan informasi tentang siapa, dimana dan kapan peristiwa atau kejadian itu terjadi di masa lampau.
b. Events
Yaitu merupakan rekaman peristiwa yang terjadi, biasanya disampaikan dalam urutan kronologis, seperti : "In the first day... . And in the next day... . And in the last day... ." Pada bagian ini terdapat juga komentar pribadi tentang peristiwa atau kejadian yang diceritakan.
c. Reorientation
Yaitu pengulangan pengenalan yang ada di orientation, pengulangan tentang rangkuman peristiwa atau kejadian yang diceritakan.

3. Ciri Kebahasaan Recount Text
Pada saat membaca Recount Text, akan ditemukan ciri-ciri kebahasaan sebagai berikut :
a. Menggunakan kalimat dalam bentuk Past Tense.
Contoh : We went to Bandung last year, I was very happy.
b. Menggunakan Action Verbs.
Contoh : went, bought, wrote, slept, dll.
c. Menggunakan Adverbs and Adverbial Phrase untuk mengungkapkan waktu, tempat dan cara.
Contoh : yesterday, at school, quickly, dll.
d. Menggunakan Conjunction dan Time Connectives untuk mengurutkan peristiwa atau kejadian.
Contoh : but, and, after that, dll.

Contoh :

Visiting Bali

There were so many places to see in Bali that my friend decided to join the tours to see as much as possible. My friend stayed in Kuta on arrival. He spent the first three days swimming and surfing on Kuta beach. He visited some tour agents and selected two tours. The first one was to Singaraja, the second was to Ubud. On the day of the tour, he was ready.
My friend and his group drove on through mountains. Singaraja is a city of about 90 thousands people. It is a busy but quiet town. The street are lined with trees and there are many old Dutch houses. Then they returned very late in the evening to Kuta.
The second tour to Ubud was a very different tour. It was not to see the scenery but to see the art and the craft of the island. The first stop was at Batubulan, a center of stone sculpture. There my friend watched young boys were carving away at big blocks of stone. The next stop was Celuk, a cente for silversmiths and goldensmiths. After that he stopped a little while for lunch at Sukawati and on to mass. Mass is a tourist center My friend ten-day-stay ended very quickly beside his two tour, all his day was spent on the beach. He went sailing or surfboarding every day. He was quiet satisfied.

4. DESCRIPTIVE TEXT

Descriptive text is a text which says what a person or a thing is like. Its purpose is to describe and reveal a particular person, place or thing.
Teks Deskriptif yaitu teks yang menjelaskan gambaran seseorang atau benda. Tujuannya adalah untuk menggambarkan atau mengungkapkan orang, tempat atau benda tertentu. Bisa dikatakan juga bahwa Descriptive text adalah teks yang menjelaskan tentang seperti apakah orang atau benda yang dideskripsikan, baik bentuknya, sifat-sifatnya, jumlahnya dan lain-lain.

Struktur Descriptive Text (generic structure) adalah :
1. Identification (identifikasi) adalah pendahuluan , berupa gambaran umum tentang suatu topik.
2.Description (deskripsi) adalah berisi ciri-ciri khusus yang dimiliki benda, tempat, atau orang yang dideskripsikan.

Ciri-ciri Descriptive Text :
- Menggunakan simple present tense
- Menggunakan attribute verb, seperti be (am, is, are)
- Hanya fokus pada satu objek tersebut.

Contoh :

The Bear and Rabbit

Once upon a time, there lived a bear and a rabbit. The rabbit is a good shot. In contrary, the bear is always clumsy and could not use the arrow.
One day, the bear called over the rabbit and asked the rabbit to take his bow and arrows. The rabbit was fearing to arouse the bear's anger so he could not refuse it. He went with the bear and shot enough buffalo to satisfy the hungry family. Indeed he shot and killed so many that there were lots of meats left after.
However the bear did not want the rabbit to get any of the meat. The rabbit could not even taste the meat. The poor rabbit would have to go home hungry after his hard day's work. The bear was the father of five children. Fortunately, the youngest child was very kind to the rabbit. He was very hearty eater. The mother bear always gave him an extra large piece of meat but the youngest child did not eat it. He would take it outside with him and pretended to play ball with the meat. He kicked toward the rabbit's house.When he got close to the door he would give the meat with such a great kick. The meat would fly into the rabbit's house. In this way, the poor rabbit would get his meal.

5. PROCEDURE TEXT
PENGERTIAN PROCEDURE TEXT

Ada tiga definisi "umum" mengenai procedure text :
(1)Texts that explain how something works or how to use instruction / operation manuals e.g. how to use the video, the computer, the tape recorder, the photocopier, the fax.
(2) Texts that instruct how to do a particular activity e.g. recipes, rules for games, science experiments, road safety rules.
(3) Texts that deal with human behaviour eg how to live happily, how to succeed.

Dari keterangan di atas, dapat kita garis bawahi bahwa procedure text adalah
(1) Teks yang menjelaskan bagaimana sesuatu bekerja atau teks yang menjelaskan cara menggunakan pedoman instruksi / penggunaan. contoh : cara menggunakan video, komputer, mesin fotokopi, fax dll.
(2) Teks yang menunjukan cara melakukan aktifitas tertentu. contoh : resep, aturan bermain game, eksperimen ilmiah, aturan keamanan berkendara.
(3) Teks yang berhubungan dengan tingkah laku manusia. contoh : cara hidup bahagian, cara sukses. dll..

The purpose procedural text is to tell the reader how to do or make something. The information is presented in a logical sequence of events which is broken up into small sequenced steps. These texts are usually written in the present tense. The most common example of a procedural text is a recipe.

Tujuan procedure text adalah memberitahu pembaca cara melakukan / membuat sesuatu. Informasi disajikan dengan urutan peristiwa yang logis. Peristiwa tersebut biasanya dibagi menjadi beberapa langkah-langkah terpisah. Teks ini biasanya ditulis menggunakan present tense. Contoh paling umum procedure text adalah resep masakan.

GENERIC STRUCTURE OF PROCEDURE TEXT
Seperti halnya pengertian procedure text di atas, generic structure (susunan umum) procedure text juga ada tiga :
(1) Goal (Maksud atau tujuan)
(2) Material Needed (Materi / alat / bahan yang dibutuhkan)
(3) Methods or Steps (Metode / langkah-langkah)
Catatan : Pada procedure text yang berupa How-to ("Pokoknya berjudul how to"), kadang material needed (materi yang dibutuhkan) tidak disertakan. (aturan tidak wajib dan bisa diubah

Sumber : www.kursusmudahbahasainggris.com


Read More

Kamis, 15 Januari 2015

SHORT FUNCTIONAL TEXT



Short Functional Text Bahasa Inggris SMP

SHORT FUNCTIONAL TEXT - Pada kesempatan ini Bimbingan Belajar29 membagikan kembali Pelajaran Bahasa Inggris SMP SHORT FUNCTIONAL TEXT  yang kami dapatkan dari beberapa sumber.
Semoga Pelajaran Bahasa Inggris SMP SHORT FUNCTIONAL TEXT bisa membantu siswa - siswa SMP yang mencari tugas Sekolah Pelajaran Bahasa Inggris SMP SHORT FUNCTIONAL TEXT .
SHORT FUNCTIONAL TEXT
A. Caution
Caution is a warning against certain acts in avoiding danger. (caution adalah peringatan terhadap tindakan tertentu dalam menghindari bahaya.)

✿ The purpose (tujuan) :
a. to give instruction/to instruct people (untuk memberi petunjuk)
b. to give direction (untuk memberi arahan)
c. to ask people to… (untuk meminta orang supaya…)
d. to advice/to suggest/to recommend people to… (untuk menganjurkan orang supaya…)
e. to remaind people to… (Untuk mengingatkan seseorang supaya…)
f. to warn/to give warning (untuk memberi peringatan)
g. to ban/to forbid/to prohibit people to… (untuk melarang orang untuk…)
✿ Meaning of caution (arti dari caution) :
 If you notice in the form of directives , then the meaning will be identical to sentences containing meaning. (Jika Anda melihat dalam bentuk arahan, maka artinya akan sama dengan kalimat yang mengandung makna arahan.)
Contoh : 
Caution
Caution


B. GREETING
Greeting card is a letter (usually decorated with pictures) that are used to congratulate, pray for someone, and so on. The form of greeting cards such as greeting cards, greeting card grief / sympathy and get-well greeting cards.

Atau yg diartikan : Greeting card adalah sepucuk surat (biasanya dihiasi dengan gambar) yang digunakan untuk memberi ucapan selamat, mendoakan seseorang, dan sebagainya. Adapun bentuk greeting card misalnya kartu ucapan selamat, kartu ucapan duka/simpati, dan kartu ucapan lekas sembuh.

Hal-hal penting yang perlu diperhatikan yaitu :
1)Who is the sender who sent cards and/
2) What is the author's purpose to send a card/ Apa tujuan penulis mengirim kartu
3) What is the relationship and the sender sent/ Apa hubungan pengirim dan yang dikirimi
4) Why does the author to send a card/ Mengapa penulis mengirim kartu
Contoh Greeting card
Greeting

Gretting Card


C. SHORT MESSAGE (Pesan Singkat)
Short message is a short message created to convey something to others that the person is doing or not doing something.

Yang diartinya: Short message yaitu pesan yang dibuat secara singkat untuk menyampaikan sesuatu kepada orang lain agar orang tersebut melakukan atau tidak melakukan sesuatu.
Contoh :
Short Message


D. INVITATION (UNDANGAN)
Invitation card or invitation letter is a card / letter that aims to invite someone to come to an event.
Yang artinya : Invitation card atau invitation letter adalah sebuah kartu / surat yang bertujuan mengundang seseorang untuk mendatangi sebuah acara.
Susunan invitation card/ letter terdiri dari :
• Invitee (yang diundang) terletak di paling atas.
• The body of the letter/ card
- Occasion ( acara) harus dinyatakan dengan jelas acara apa yang akan diselenggarakan.
- Date ( tanggal), cantumkan hari, tanggal, tahun dengan jelas.
- Time ( waktu ), cantumkan waktu penyelenggaraan acara dengan jelas sehingga tamu tahu jam berapa acara akan dimulai
- Place (tempat), cantumkan tempat/ alamat penyelenggaraan acara dengan jelas bila perlu dengan denah lokasi.
• Inviter ( si pengundang) tuliskan di paling akhir/ bawah.
Invitation (undangan) biasa menggunakan kata-kata “please come to …” atau “invite”, "hope to", digunakan untuk mengundang seseorang supaya hadir pada acara yang kita adakan
Contoh :
Invitation


E. Announcement
Definition (definisi) :
Text announcement is a notice writing addressed to the general public / specific group that contains the information or news notifications ( pengumuman adalah pemberitahuan yang ditujukan kepada kelompok masyarakat / umum tertentu yang berisi pemberitahuan informasi atau berita)

The purpose (tujuan) :
-This text serves convey certain information to the public (Teks ini berfungsi menyampaikan informasi tertentu kepada public)
-To information us what has happened or what will happen (Untuk menginformasikan kepada kita apa yang telah terjadi atau apa yang akan terjadi)
Generic Structure (generic struktur) :
-Purpose (tujuan)
-Day and date (haru dan tanggal)
-Time (waktu)
-Place (tempat)
-Sender (pengirim)

Specific Text (spesifik tertentu) :
• Directed for general (Diarahkan untuk umum)
• Using Simple Present Tense (Menggunakan Simple Present Tense)
• Using Imperative Sentences (Menggunakan Kalimat Imperatif)

Contoh :
Announcement
Announcement


F. ADVERTICEMENT
* The purpose (tujuan) :
a) Advertisement used to promote a product in the form of goods or services (Iklan yang digunakan untuk mempromosikan produk berupa barang atau jasa)
b) Advertisement contains sentences persuading to entice the reader to buy the product or come to a place has to offer (Iklan berisi kalimat membujuk untuk menarik perhatian pembaca untuk membeli produk atau datang ke tempat yang ditawarkan)
* The language used to create ads must (Bahasa yang digunakan untuk membuat iklan harus) :
- Simple (sederhana)
- Clear (benar)
- Short (pendek)
- Attractive (menarik)
- Persuasive (membujuk)
- Using the slogan (menggunakan slogan)
- Can convince readers to buy or come ( bisa membujuk pembaca agar membeli dan datang)

Contoh :
Adverticement
Adverticement


G. LABEL
identify of label (identifikasi label) :
Label is a piece of paper, polymer, cloth, metal, or other material affixed to a container or article, on which is printed a legend, information concerning the product, addresses, etc. Information printed directly on a container or article can also be considered labeling (Label adalah selembar kertas, polimer, kain, logam, atau bahan lain yang ditempelkan wadah atau artikel, yang dicetak legenda, informasi mengenai produk, alamat, dll Informasi dicetak langsung pada tempat atau artikel juga bisa dianggap pelabelan)

Labels have many uses (label memiliki banyak kegunaan):
a) product identification (identifikasi produk)
b) name tags (tag nama)
c) advertising (iklan)
d) warnings, and (peringatan dan)
e) other communication (komunikasi lain)
contoh :
Label
Label


H. LETTER
• Part of letter (bagian surat) :
a) Heading (kop surat)
b) Salutation (salam)
Ex : dear, sir … (untuk pak/bu …)
Hi … (hai…)
c) Body (isi)
d) Closing (penutup

• The Purpose (tujuan) :
a) to convey information from one party to another (untuk menyampaikan informasi dari satu pihak kepada pihak lain)
b) to inform about something (untuk menginformasikan tentang sesuatu)

contoh :
Letter
Letter


I. SHOPPING LIST
Meaning of shopping list
A shopping list is a list of items needed to be purchased by a shopper. Consumers often compile a shopping list of groceries to purchase on the next visit to the grocery store. The list may be compiled immediately before the shopping trip or incrementally as shopping needs arise throughout the week. The shopping list itself may be a scrap piece of paper or something more elaborate.
(Sebuah daftar belanja adalah daftar barang yang dibutuhkan untuk dibeli oleh pembeli. Konsumen sering menyusun daftar belanja bahan makanan untuk membeli pada kunjungan berikutnya ke toko kelontong. Daftar ini dapat dikompilasi segera sebelum perjalanan belanja atau bertahap sebagai kebutuhan belanja timbul sepanjang minggu. Daftar belanja sendiri mungkin secarik kertas atau sesuatu yang lebih rumit.)

Contoh :
Shoping List


Read More

Kamis, 11 September 2014

Sejarah Kerajaan Kutai

Sejarah  Kerajaan Kutai
Pada kesempatan ini Bimbingan Belajar29 membagikan kembali Sejarah Kerajaan Kutai, bagi rekan - rekan yang membutuhkan silahklan simak artikel di bawah ini.
Sejarah Kerajaan Kutai
Kutai adalah salah satu kerajaan tertua di Indonesia, yang diperkirakan muncul pada abad 5 M atau ± 400 M, keberadaan kerajaan tersebut diketahui berdasarkan sumber berita yang ditemukan yaitu berupa prasasti yang berbentuk Yupa/tiang batu berjumlah 7 buah.
   
Prasasti Yupa yang menggunakan huruf Pallawa dan bahasa sansekerta tersebut, dapat disimpulkan tentang keberadaan kerajaan Kutai dalam berbagai aspek kebudayaan yaitu antara lain politik, sosial, ekonomi, dan budaya.

Kehidupan Politik

Dalam kehidupan politik seperti yang dijelaskan dalam prasasti Yupa bahwa raja terbesar Kutai adalah Mulawarman, ia putra Aswawarman dan Aswawarman adalah putra Kudungga.
Dalam prasasti Yupa juga dijelaskan bahwa Aswawarman disebut sebagai dewa Ansuman/dewa Matahari dan dipandang sebagai Wangsakerta atau pendiri keluarga raja.
Hal ini berarti Asmawarman sudah menganut agama Hindu dan dipandang sebagai pendiri keluarga atau dinasti dalam Agama Hindu. Untuk itu para ahli berpendapat Kudungga masih nama Indonesia asli dan masih sebagai kepala suku, ia yang menurunkan raja-raja Kutai.

Dalam kehidupan sosial terjalin hubungan yang harmonis/ erat antara Raja Mulawarman dengan kaum Brahmana, seperti yang dijelaskan dalam prasasti Yupa, bahwa raja Mulawarman memberi sedekah 20.000 ekor sapi kepada kaum Brahmana di dalam tanah yang suci bernama Waprakeswara. Dengan adanya istilah Waprakeswara, tentu timbul pertanyaan dalam diri Anda, apa yang dimaksud dengan Waprakeswara?
Waprakeswara adalah tempat suci untuk memuja dewa Syiwa. Di pulau Jawa disebut Baprakewara.

Kehidupan Ekonomi
Dalam kehidupan ekonomi, tidak diketahui secara pasti, kecuali disebutkan dalam salah satu prasasti bahwa Raja Mulawarman telah mengadakan upacara korban emas dan tidak menghadiahkan sebanyak 20.000 ekor sapi untuk golongan Brahmana.
Tidak diketahui secara pasti asal emas dan sapi tersebut diperoleh, apabila emas dan sapi tersebut didatangkan dari tempat lain, bisa disimpulkan bahwa kerajaan Kutai telah melakukan kegiatan dagang.

Kehidupan Budaya
Dalam kehidupan budaya dapat dikatakan kerajaan Kutai sudah maju. Hal ini dibuktikan melalui upacara penghinduan (pemberkatan memeluk agama Hindu) atau disebut upacara Vratyastoma.
Upacara Vratyastoma dilaksanakan sejak pemerintahan Aswawarman karena Kudungga masih mempertahankan ciri-ciri keIndonesiaannya sedangkan yang memimpin upacara tersebut, menurut para ahli dipastikan adalah para pendeta (Brahmana) dari India. Tetapi pada masa Mulawarman kemungkinan sekali upacara penghinduan tersebut dipimpin oleh pendeta/kaum Brahmana dari orang Indonesia asli. Dengan adanya kaum Brahmana asli orang Indonesia membuktikan bahwa kemampuan intelektualnya tinggi, terutama dalam hal penguasaan terhadap bahasa Sansekerta pada dasarnya bukanlah bahasa rakyat India sehari-hari, melainkan lebih merupakan bahasa resmi kaum Brahmana untuk masalah keagamaan.


Read More

Minggu, 07 September 2014

Contoh Teks Pidato Bahasa Jawa



Contoh Pidato Bahasa Jawa

Sering sekali Bimbingan Belajar29 dimintain tolong untuk mencarikan  Contoh Teks Pidato Bahasa Jawa ketika mendekati ujian SMP kelas 9.
Berikut ini Bimbingan Belajar29 membagikannya kembali buat rekan - rekan yang mencari tugas sekolah Contoh Teks Pidato Bahasa Jawa.
Semoga bermanfaat.

Teks Pidato Bahasa Jawa

Assalamu'alaikum wr. wb

Ingkang kinurmatan Bapak Kepala Sekolah ugi Bapak - Ibu Guru ingkang satuhu luhuring budi lan rencang - rencang kelas 9 ingkang kula tresnani.

Monggo kito sedaya ngaturaken puji syukur dhumateng Gusti ingkang maha Agung ingkang sampun maringaken sedoyo nikmat lan kewarasan dateng kito sedoyo dumugi sakmeniko kito sedaya saged kempal wonten ing adicara perpisahan sak manika.
Kula, wakil saking rencang - rencang kelas 9 ngaturaken maturnuwun ingkang sak ageng-agengipun kagem Bapak / Ibu Guru ingkang sampun mbulawantah kulo lan sak konco-konco dateng pawiyatan menika ingkang dangunipun tigang warsa.

Mboten keraos kolo lan rencang sebrayat sampun ngelampahi ngangsu kawruh wonten ing pawiyatan mriki. Wonten ing adicara menika, kulo kiyambak tuhu rencang - rencang nyuwun agenging pangapunten sangking Bapak / Ibu guru amargi wonten ing tigang warso ngangsu kawruh wonten pawiyatan mriki kulo lan sak rencang mebo menawi gadhah kalepatan ingkang dipun sengojo lan mboten disengojo. Mugi - mugi Bapak / Ibu guru kerso ngapuntenaken sedoyo kelepatan kulo lan rencang - rencang.

Satuhunipun kulo lan sak konco awrat sanget badhe nilaraken pawiyatan menika amargi sedoyo ingkang wonten dateng mriko sampun kados sederek lan kaluargo. Namung amargi kulo lan rencang - rencang kedah nglanjutaken ngangsu kawruh wonten ing pawiyatan ingkang luwih inggil, kulo lan rencang - rencang kedah saget dening ikhlas nilaraken pawiyatan menika.

Kadosipun sampun cekap anggenipun kulo matur. Bilih menawi wonten kalepatan kulo nyuwun agenging pangapunten.

Wasslamu'alaikum wr. wb


Read More

Sejarah Kerajaan Kalingga


Prasati Tuk Mas

SEJARAH KERAJAAN KALINGGA
Mengenai keberadaan kerajaan Kalingga sampai saat ini menjadi sebuah perdebatan yang tidak ada akhirnya. Sebagian orang meyakini bahwa Kerajaan Kalingga berada di India dan sebagian lagi mengatakan ada di Pulau Jawa (Indonesia). Terlepas dari semua itu, yang jelas bukti-bukti sejarah menunjukkan bahwa di Jawa pernah berdiri sebuah kerajaan bernama Ho-ling (berdasarkan sumber berita Cina) yang bertempat di Cho-po (Jawa). Selain kronik Cina, sumber yang memuat data mengenai keberadaan kerajaan ini adalah Prasasti Tuk Mas. Pendapat bahwa yang dimaksud dengan kerajaan Ho-ling adalah kerajaan Kalingga yang berada di Jawa Tengah dikemukakan oleh Prof. Krom.
Ratu Shima yang Tegas
Berdasarkan sumber dari Dinasti Tang (618 – 908), Kerajaan Ho-ling diperkirakan terletak di Cho-po (Jawa, tepatnya jawa Tengah) dan keberadaannya diperkirakan sudah ada sejak abad ke-6 Masehi. Kronik zaman Dinasti Tang menyebutkan bahwa pada 674 Kerajaan Ho-ling diperintah oleh Ratu Shima (sebagian menulisnya Sima), yang dikenal sebagai raja yang patuh menjalankan hukum kerajaan; bahkan diceritakan, barang siapa yang mencuri, akan dipotong tangannya.
Disebutkan bahwa ratu ini seorang pemimpin yang tegas, jujur dan bijaksana, serta melaksanakan hukum dengan tegas. Ketegasannya dalam menerapkan keadilan ditampilkan dengan cara menguji kejujuran rakyat Kanjuruhan. Diceritakan, ada seorang utusan yang datang dari Arab dan menaburkan uang di tengah jalan. Selama hampir tiga tahun tidak ada yang berani mengambil uang tersebut. Suatu hari putra mahkota menyentuh uang tersebut dengan kakinya. Mendengar berita tersebut Ratu sangat marah dan memerintahkan agar putra mahkota dipenggal lehernya. Hukuman penggal leher akhirnya dibatalkan setelah ada permohonan dari para pembesar kerajaan. Menurut para pembesar kerajaan yang menyentuh uang tersebut adalah kakinya, oleh karena itu yang dipotong bukan bukan leher melainkan kakinya. Peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa raja dan rakyat Kalingga merupakan negara yang taat hukum, yang dipakai sebagai pedoman hidup bagi mereka dalam bernegara dan beragama. Dengan kepatuhan terhadap hukum, kerajaan Kalingga mendapatkan ketentraman dan kemakmuran.
Daerah wilayah kekuasaan Kerajaan Kalingga meliputi 28 wilayah. Menurut Rouffaer, dalam menjalankan pemerintahannya raja dibantu oleh 32 orang menteri, empat orang duduk di pusat kerajaan dan 28 orang lainnya berada di daerah-daerah.

Perutusan ke Negeri Cina
Selanjutnya kronik Dinasti Tang menyebutkan bahwa Kerajaan Ho-ling mengirimkan utusan ke negeri Cina pada 647 sampai 666. Kemudian kerajaan ini mengirim utusan lagi pada 818 dan sesudah itu diberitakan tidak pernah mengirim utusan lagi ke Cina. Pengiriman utusan dari Ho-ling ke Cinta diperkirakan merupakan sebuah bentuk diplomasi antar dua kerajaan. Seperti diketahui bahwa pada abad ke-7 dan seterusnya, dinasti-dinasti Cina senantiasa menjalin hubungan dengan kerajaan-kerajaan di Nusantara.
Pengiriman duta Ho-ling ke Cina menunjukkan bahwa orang-orang Nusantara sudah mampu mengarungi samudra dan laut lepas. Kemampuan mengarungi samudra tentunya harus dibekali oleh kemampuan lainnya seperti ilmu pembuatan kapal, ilmu perbintangan atau astronomi, cara mengawetkan makanan, dan lain-lain. Hal ini menjadi bekal kuat bagi orang-orang Nusantara untuk menjalin aktivitas ekonomi dan menggalang kekuatan politik dengan bangsa atau kerajaan lain di seberang laut.

Pendeta Buddha Jnanabhadra
Berita dari seorang pendeta Buddha dari Cina bernama I-Tsing menyatakan bahwa pada 664 seorang bernama Hwi-ning datang ke Ho-ling dan tinggal di tempat itu selama tiga tahun (664-667). Dengan bantuan seorang pendeta Ho-ling yang bernama Yoh-na-po-t’o-lo (kemungkinnan besar pelafalan Cina untuk Jnanabhadra) ia menerjemahkan kitab suci Buddha Hinayana. Nama Jnanabhadra sendiri berasal dari sebuah prasasti bertarikh 650 Masehi yang ditulis dengan huruf Pallawa berbahasa Sansekerta, ditemukan di Tuk Mas di Desa Dakawu (kini termasuk Grabag, Magelang) di lereng Gunung Merbabu, Jawa Tengah. Isi prasasti adalah pujian kepada mata air yang keluar dari gunung yang menjadikan sebuah sungai bagaikan Sungai Gangga. Di atas tulisan prasasti tersebut dipahatkan gambar leksana dan alat-alat upacara berupa cakra, sangkha, trisula, kundi, kapak, gunting, dolmas, stap, dan empat bunga fatma. Benda-benda ini jelas merupakan sembahan penganut Siwa. Berikut terjelamahan prasasti tersebut:
Mata air yang airnya jernih dan dingin ini ada yang keluar dari batu atau pasir ke tempat yang banyak bunga tanjung putih, serta mengalir ke sana-sini. Sesudah menjadi suatu kemungkinan mengalir seperti sungai Gangga.

Kehidupan Masyarakat
Kronik Dinasti Tang memberitakan bahwa daerah yang disebut Ho-ling menghasilkan kulit penyu, emas, perak, cula badak, dan gading gajah. Penduduk membuat benteng-benteng dari kayu dan rumah mereka beratap daun kelapa. Mereka sudah pandai membuat minuman dari air bunga kelapa (mungkin tuak). Bila makan mereka tidak menggunakan sendok atau sumpit, melainkan menggunakan tangan.
Keberadaan kerajaan Kalingga tentunya tidak akan terlepas dari keberadaan Ratu Shima, yang memerintah sekitar tahun 674 M. Dalam memerintah Ratu Sima digambarkan sebagai pemimpin yang “keras” demi menjalankan hukum kerajaan. Kerajaannya dikelilingi oleh pagar kayu. Tempat tinggal raja berupa rumah tingkat yang beratap, tempat duduk raja berupa paterana gading.

Sumber Bacaan
Moehadi. 1986. Modul Sejarah Indonesia. Karunia: Jakarta.
Marwati, dkk. 1993 . Sejarah Nasional Indonesia II. Jakarta: Balai Pustaka.


Read More

Sabtu, 06 September 2014

Sinopsis Novel Salah Asuhan - Abdul Moeis


Sinopsis Novel Salah Asuhan

A. Sinopsis Dari Novel Salah Asuhan Yang Dikarang Oleh Abdul Moeis
Salah Asuhan
Corrie de Bussee, gadis Indo-Belanda yang cantik, lincah dan menjadi dambaan setiap pria yang mengenalnya. Corrie berteman dengan Hanafi dari sejak kecil. Hanafi sendiri adalah laki-laki muda asli Minangkabau, berpendidikan tinggi dan berpandangan kebarat-baratan. Bahkan cenderung memandang rendah bangsanya sendiri. Karena selalu bersama-sama akhirnya mereka satu sama lain saling mencintai. Tapi cinta mereka itu tidak dapat disatukan karena perbedaan bangsa, jika orang Bumiputera menikah dengan keturunan Belanda maka tidak diperbolehkan, yang akhirnya apabila kejadian sampai menikah mereka akan dijauhi oleh para keluarganya dan orang lain. Corrie pun akhirnya pergi yang tadinya tinggal di Minangkabau menjadi di Betawi. Perpindahan itu sengaja ia lakukan untuk menghindar dari Hanafi dan meneruskan sekolahnya di sana.
Akhirnya ibu Hanafi ingin menikahkan Hanafi dengan Rapiah. Rapiah adalah sepupu Hanafi, gadis Minangkabau sederhana yang berperangai halus, taat pada tradisi dan adat sukunya. Ibu Hanafi ingin menikahkan Hanafi dengan Rapiah yaitu untuk membalas budi pada ayah Rapiah yaitu Sutan Batuah yang telah membantu membiayai sekolah Hanafi. Tapi Hanafi awalnya tidak mau karena cintanya hanya untuk Corrie saja. Tapi akhirnya dengan bujukan ibunya walaupun terpaksa ia menikah juga dengan Rapiah. Karena Rapiah tidak Hanafi cintai keberadaan Rapiah pun di rumah hanya diperlakukan seperti babu, mungkin Hanafi juga menganggap bahwa Rapiah itu seperti tidak ada apabila banyak temannya orang Belanda yang datang ke rumahnya. Hanafi dan Rapiah dikarunia seorang anak laki-laki yaitu Syafei.
Suatu hari Hanafi digigit anjing gila, maka dia harus berobat ke Betawi agar sembuh. Di Betawi Hanafi dipertemukan kembali dengan Corrie. Di Betawi, Hanafi menikah dengan Corrie dan mengirim surat pada ibunya bahwa dia menceraikan Rapiah. Ibu Hanafi dan Rapiah pun sangat sedih tetapi walaupun Hanafi seperti itu Rapiah tetap sabar dan tetap tinggal dengan Ibu Hanafi. Perkawinannya dengan Corrie ternyata tidak bahagia, sampai-sampai Corrie dituduh suka melayani laki-laki lain oleh Hanafi. Akhirnya Corrie pun sakit hati dan pergi dari rumah menuju Semarang. Corrie sakit Kholera dan meninggal dunia. Hanafi sangat menyesal telah menyakiti hati Corrie dan sangat sedih atas kematian Corrie, Hanafi pun pulang kembali ke kampung halamannya dan menemui ibunya, Hanafi pekerjaannya hanya termenung saja dan tidak terlalu bergairah. Hanafi sakit, kata dokter dia minum sublimat dan akhirnya dia meninggal dunia.

B. Kutipan Bagian yang Menarik

1. Kutipan bagian menarik dari cerita bagian I yaitu Dua orang Sahabat
"Itu benar, Han ! Tapi pada segala pekerjaan ada batasnya. Maka adalah pekerjaan atau perbuatan yang luar biasa, yang tiada galib dilakukan orang, sedang pekerjaan yang disangka tidak mengganggu kesenangan orang lain itu pun boleh jadi akan melanggar peri kesopanan."
"Kesopanan ? Apakah perbuatan kita, duduk berhadapan antara satu meter jaraknya, dibatasi oleh meja teh, di tempat terang dan pada waktu yang lazim dipergunakan orang buat berkunjung-kunjungan, boleh dikatakan melanggar peri kesopanan ?"
"Tidak, hanya … engkau bujang, aku gadis, sesama manusia kita telah menetapkan pelbagai undang-undang yang tidak tersurat, tapi yang harus diturut oleh sekalian manusia dengan tertib, kalau ia hendak hidup aman di dalam pergaulan orang, yang memakai undang-undang itu."
"Ah, undang-undang itu, di manakah batasnya ? Bangsamu, bangsa Eropa, amat melonggarkan pergaulan laki-laki dengan perempuan, Nyonya yang bersuami sudah galib dibawa-bawa dan dikepit oleh seorang tuan lain, dengan tidak ada undang-undang tersurat atau tidak tersurat yang melarangnya. Itu tentang pergaulan. Ambillah pula contoh yang lain. Di tanah Arab perempuan menutup badan sampai ke muka-muka, tapi di tanah Amerika banyak benar kota-kota ramai di pantai laut, tempat nyonya dan tuan-tuan berkeliaran saja memakai baju renang, sampai ke rumah-rumah minum. Tetapi lihatlah pula setengah bangsa Barat—jika nyonya rumah berani turun tanah memakai baju piyama, yang nyata lebih menutup kulit dari pakaian dansa maka nyonya yang berpakaian piyama turun ke tanah itu akan disebutkan 'melanggar adat sopan santun'. Jadi bagiku, sungguhlah gelap batas undang-undang kesopanan itu—sebab ia tidak tersurat."
"Hanafi ! Engkau juga yang mulai memperbincangkan tentang adat lembaga serta tertib kesopanan masing-masing bangsa; engkau pun juga yang tak suka mengindahkan atau mengakui adanya perbedaan adat lembaga antara bangsa dengan bangsa. Setiap kita bertukar pikiran tentang hal itu, pada akhirnya engkau senantiasa berkecil hati seolah-olah malulah engkau, bahwa engkau masuk golongan Bumiputera, yang kau sangka bahwa aku menghinakannya. Bahwa sesungguhnya kulitku berwarna pula, ibuku perempuan Bumiputera sejati, meskipun diriku masuk pada golongan bangsa Eropa. Dan sementara … fasal hina-menghina Bumiputera lebih banyak terdengar dari mulutmu sendiri daripada dari mulutku. Kita akan memperkatakan …"
"Aku tahu betul, bahwa aku hanyalah Bumiputera saja, Corrie ! Janganlah kau ulang-ulang juga."
"Hanafi, Hanafi ! Hari ini fiilmu sangat pula susahnya. Kalau sifat dan hatimu kurang-kurang kukenal, niscaya akan boleh timbul salah persangkaan atas dirimu. Jadi fiil tabiatmu sudah jelas benar bagiku. Tenangkanlah dahulu darahmu; dengarkan baik-baik. Kita akan memperkatakan hal adat lembaga masing-masing yang digalihkan atau hendak diubah oleh bangsa-bangsa lain di luar kita, karena di negeri mereka masing-masing perkara itu memang sedang menjadi buah perselisihan. Apakah gunanya kita turut-turut memusingkan kepala ? Aku tahu buat diriku sendiri, meskipun esok atau lusa di kota Solok ini sudah lazim berjalan berkeliaran memakai baju renang, aku sendiri tidak akan menyertai arus 'mode' yang serupa itu. Tidak, Hanafi –yang menjadi pertikaian tutur bagi kita ialah hal adat lembaga sesuatu bangsa di dalam pergaulannya'. Dalam pergaulan bangsaku, bangsa Eropa, sungguh longgarlah pergaulan antara laki-laki dengan perempuan, sebagai kaukatakan tadi. Tapi sebab sudah 'galib', tidaklah akan cepat orang berbuat fitnah atau menyangka buruk, apabila kelihatan laki-laki bergaul dengan perempuan lain, yang bukan ahli karibnya. Tetapi dalam pergaulan bangsamu, apabila di tanah Sumatra ini, lain keadaannya. Jangankan dengan perempuan lain, dengan ahlinya yang paling karib, sekalipun dengan adik atau kakaknya sendiri, sudah disebut janggal, apabila ia bergaul atau duduk bersenda gurau, bahkan berjalan berdua-dua.

2. Kutipan bagian menarik dari cerita bagian II yaitu Ayah dan Anak
"Kawin campuran itu sesunguhnya banyak benar rintangannya, yang ditimbulkan oleh manusia juga Corrie ! Karena masing-masing manusia dihinggapi oleh suatu penyakit kesombongan bangsa. Sekalian orang, masing-masing dengan perasaannya sendiri, menyalahi akan bangsanya, yang menghubungkan hidup kepada bangsa yang lain, meskipun kedua orang menjadi suami-istri itu sangat berkasih-kasihan.
Tapi-asal kedua yang dikatakan "berkesalahan" itu sama-sama meneguhkan hatinya, tiadalah akan mengenai pada dirinya segala nista dan cerca orang lain itu. Lihat sajalah keadaanku dengan namamu. Bangsa dan kaum kerabatnya sekali-kali tidak suka ia hidup bersama dengan aku, pun bangsaku menyalahi benar akan perbuatanku itu. Tapi aku, demikian pula namamu, tiadalah kawin dengan orang banyak itu tidak pula kami bergantung kehidupan pada mereka sekalian. Jadi segala bantuan mereka tidaklah mengurangi kesenangan kami. Hanya jarang-jarang yang bertemu demikian, Corrie!"
"Hal Papa dengan Mama, sungguh lain. Papa laki-laki orang Barat, Mama perempuan orang sini. Sesungguhnya Corrie tidaklah dapat memberi keterangan tentang hal itu, tapi Corrie berasa saja, bahwa lain benar keadaan hal pencampuran laki-laki Barat dan perempuan Timur dengan sebaliknya."
"Perbedaan itu sungguh ada, Corrie, dan sungguh besar sekali. Sebabnya tiada lain, karena penyakit "kesombongan bangsa" itu juga. Orang Barat datang ke mari, dengan pengetahuan dan perasaan, bahwa ialah yang dipertuan bagi orang sini. Jika ia datang ke negeri ini dengan tidak membawa nyonya sebangsa dengan dia, tidak dipandang terlalu hina, bila ia mengambil "nyai" dari sini. Jika "nyai" itu nanti beranak, pada pemandangan orang Barat itu sudahlah ia berjasa besar tentang memperbaiki bangsa dan darah di sini. Tapi lain sekali keadaannya pada pertimbangan orang Barat itu, kalau seseorang nyonya Barat sampai bersuami, bahkan beranak dengan orang sini. Terlebih dahulu nyonya itu dipandang seolah-olah sudah menghinakan dirinya sebagai bangsa Barat; dan dikatakan sudah "membuang diri kepada orang sini. Di dalam undang-undang negeri ia pun segera dikeluarkan dari hak orang Eropa. Itu saja sudah tidak dengan sepatutnya, istimewa pula bila diketahui, bahwa seorang bangsa Bumiputra yang minta dipersamakan haknya dengan Eropa selama-lamanya tidak boleh menghilangkan lagi hak itu dan kembali menjadi Bumiputra pula, karena tidaklah ada sesuatu fasal di dalam undang-undang yang boleh menggugurkan haknya sebagai orang Eropa. Tapi seseorang perempuan bangsa Eropa yang kawin dengan orang Bumiputra, selama ditangan suaminya itu akan kehilangan haknya sebagai orang Eropa. Terlebih hina kedudukannya di dalam pergaulan bangsa Eropa sendiri, jika nyonya itu sampai beranak, dipandang bahwa ia turut mengurangi derajat bangsa Eropa. Terasalah olehmu, Corrie, perbedaan antara kedua perkawinan itu ?"

3. Kutipan bagian menarik dari cerita bagian III yaitu Ibu dan Anak
"Ingatlah, Anakku! Harapkan burung terbang tinggi, punai tangan engkau lepaskan. Tidak akan aman hidupmu, bila makanan enggang dan bunga larangan yang engkau kehendaki. Sesayang-sayangnya pada engkau, kaum keluargamu tentu tidak akan dibawanya duduk bersama-sama. Yang hendak ibu berikan buat gantinya, ialah anak ibu sendiri yang akan insyaf betul bahwa ia kelak akan menumpangkan diri padamu. Sedang yang engkau kehendaki ialah orang yang akan menaruh keyakinan, bahwa ia sudah membuang diri buat menurutkan kamu. Orang itu berasa berpemberian yang sebesar-besarnya kepadamu, yang harus kau junjung tinggi. Lebih dahulu engkau dipandangnya ada berutang budi kepadanya, yang tidak ternilai besarnya. Tapi yang ibu sediakan bagimu, ialah yang akan berasa sendiri ada berutang budi kepadamu. Tidaklah ia berasa, bahwa dirinya sudah diperganduh-ganduhkan buat membayar utangmu pada ayahnya, karena secara adat Minangkabau yang diketahuinya ialah engkau yang harus menerima pusaka ayahnya, dan bukanlah dia, yang akan diketahuinya pula ialah bahwa engkau sudah menunjukkan murah hatimu, suka menerima dia yang bodoh serta hina menjadi istrinya. Pada hemat ibu, hanya perkawinan yang secara itulah yang akan menyenangkan hidupmu, teristimewa karena ketinggian hatimu. Pantang kelintasan, pantang ketindihan oleh kata. Asal engkau pandai membalas budi dengan budi, selamatlah engkau seumur hidupmu. Setiap hari engkau berkata bahwa ibumu orang kampung, orang bodoh, tapi timbang-timbanglah segala kata-kata ibu dengan hati yang jernih, pikiran yang tenang, uji-ujilah salah-benarnya."

4. Kutipan bagian menarik dari cerita bagian VIII yaitu Istri Pemberian Ibu
Dua tahun sudah berjalan, setelah jadi perundingan Hanafi dengan ibunya tentang beristri itu. Sebelum ia membenarkan kata ibunya, ia pun sudah dinikahkan dengan Rapiah.
Di dalam peralatan itu hampir-hampir pernikahan dibatalkan, karena timbul perselisihan antara pihak kaum perempuan dengan kaum laki-laki.
Pangkalnya dari Hanafi juga. Ia berkata "kaum muda", yaitu pakaian secara zaman dahulu, disebutkan "anak komidi Stambul". Jika ia dipaksa memakai secara itu, sukalah ia urung saja, demikian katanya dengan pendek. Setelah timbul pertengkaran di dalam keluarga pihaknya sendiri akhirnya diterimalah, bahwa ia memakai 'smoking' yaitu jas hitam, celana hitam dengan berompi dan berdasi putih. Tapi waktu hendak menutup kepalanya sudah beselisih pula. Dengan kekerasan ia menolak pakaian destar saluk, yaitu pakaian orang Minangkabau. Bertangisan sekalian perempuan, meminta supaya ia jangan menolak tanda Keminangkabauan yang satu itu, yaitu selama beralat saja. Jika peralatan sudah selesai, bolehlah ia memakai sekehendak hatinya pula.
Hanafi tetap menolak kehendak orang, ia tidak hendak menutup kepala, karena lebih gila pula dari komidi, bila memakai destar, saluk dengan baju smoking dan dasi.
Setelah ibunya sendiri hilang sabarnya dan memukul-mukul dada di muka anak yang 'terpelajar itu, barulah Hanafi menurutkan kehendak orang banyak, sambil mengeluh dan teringat akan badannya yang sudah … 'tergadai'.
Untunglah ia menurutkan hal menutup kepala itu, karena sekalian pengantar dan pasumandan (pengiring bangsa perempuan), sudah berkata bahwa mereka tak sudi mengiringkan 'mempelai didong'.
Dalam dua tahun hidup beristri itu, Rapiah dipandangnya sebagai seorang istri yang diberikan kepadanya. Segala kewajiban sebagai suami adalah diturutnya, demikian ia berkata, tapi akan batinnya Rapiah tidak berhak. Leif de, synpatie dan lain-lain lagi perkataan yang menyeramkan bulu tengkuk ibunya, tentu Rapiah tidak boleh mengharap daripadanya. Demikian pula tentang kemerdekaannya.

5. Kutipan bagian menarik dari judul bagian IX yaitu Durhaka kepada Ibu
Kemarahan Hanafi kepada anaknya, yang katanya sudah dimasuki setan dan kepada si Buyung yang masih belum datang, serta malunya kepada kawan-kawannya melihat istrinya datang, yang tidak ubah rupanya dengan hoki, kesemuanya sudah tertumpah ke atas kepala Rapiah.
Sambil merentakkan anak itu ke tangan ibunya, dikatainyalah istrinya di muka kawan-kawannya dengan segala nista dan penghinaan, hingga ketiga tamu itu menjadi resah dan tidak berketentuan rasa lagi.
Rapiah tunduk, tidak menyahut, hanya air matanya saja yang berhamburan. Syafei, dalam dukungan ibunya yang tadinya menangis keras, lalu mengganti tangisnya dengan beriba-iba. Seakan-akan tahulah anak kecil itu, bahwa ibunya yang tidak berdaya, sedang menempuh azab dunia dan menanggung aib di muka-muka orang.
Sedang Rapiah berjalan gontai menuju ke dapur sambil menundukkan kepala, seolah-olah sedang bertangis-tangisan dengan anaknya, si suami celaka masih mengiringkannya dengan kata-kata yang sudah tak layak didengar lagi.
Pada waktu itu Ibu Hanafi sedang di tengah rumah pula, jadi mendengar dan melihatlah ia apa yang sedang terjadi. Sesampainya ke dapur pula, lalu dipeluk dan ditangisinyalah menantu dan cucunya yang malang itu. Maka ketika itu di dalam dapur tiadalah lain yang terdengar, hanyalah keluh kesah dan tangis ketiga mereka itu saja.

6. Kutipan bagian menarik dari cerita bagian XII yaitu istri pemberian ibunya
"Jangan kau sebut jual hal ke Betawi itu, Piah. Memang sebaik-baiknya kami bercerai-berai, sia-sia jualah bila berkumpul-kumpul. Bagaimana akan dapat minyak dibaurkan dengan air ? Memang ia anak yang kukandung, kulahirkan sendri! Darah dagingku sendiri, Piah ! Tapi apa boleh buat ! Entah karena salah asuhan entah karena salah campuran, tapi anak itu sangat mengasingkan hidupnya. Berlain pemandangannya dengan kita, berlain pendapatnya, berlain perasaannya. Ya – Piah ! Tak dapatlah ibu menyangkakan kepecahan telur sebutir hal kehilangan anak itu, karena ia hanya seorang itu saja dan tidak pula berayah. Yang kandung benar saudara ibu, hanyalah ayahmu, seibu sebapa dengan ibu, Piah, itulah sebabnya maka ibu berkeras menahan engkau. Ibu seperuntungan dengan ayahmu sama-sama tunggal, karena turunan kita memang jarang.

7. Kutipan bagian menarik dari cerita bagian XIX yaitu Mertua dan Menantu
"Kepada ibu pastilah engkau tidak akan durhaka, karena didalam sesuatu hal ibu akan membenarkan saja segala sesuatu yang hendak engkau lakukan, teristimewa pula didalam hal ini. Hanya ayahmu tentu tidak akan ijin, jadi nyatalah engkau akan melakukan sesuatu buatan yang tidak direlakan ayahmu. Durhaka kepada ayah dan ibu itu berat benar tanggungannya, Piah, Berat buat di dunia, berat pula buat di akhirat."

8. Kutipan bagian menarik dari cerita bagian XXI yaitu Tali Percintaan
Tahulah Hanafi sekarang; Rapiah, intan yang belum digosok. Sayang, ia tak pandai menggosoknya hingga barang yang berharga itu dibuang-buang, disangkanya tidak berharga.
Corrie berlian yang sudah digosok, harganya tidak ternilai-nilai, tapi si suami yang celaka tak pandai memakainya dan enyahlah harta itu dari kandungannya. Hanafi menyesali dirinya tidak berhingga-hingga.

9. Kutipan yang menarik dari cerita bagian XXIV yaitu di Jalan Hendak Pulang
"Tuan Han, bagi Tuan amat melarat, jika berkata-kata panjang. Baiklah Tuan mendengarkan saja apa yang hendak saya tuturkan, sebagai dokter dan sebagai manusia. Kita berhadapan sebagai orang yang sama-sama terpelajar, sopan, muda dan sudah tentu sama-sama pula mengetahui dan menderita akan arti cinta. Dengarlah ! sepanjang pendapat saja, cinta itu akan berbukti benar, bila yang menaruhnya tahu menaruh sabar, tahu menegakkan kepalanya di dalam segala rupa bahaya serta rintangannya. Cinta itu tahu memberi korban, jika perlu.

C. Unsur Instrinsik dari Novel Salah Asuhan

1. Tema
Adapun tema yang terkandung dalam novel Salah Asuhan karangan Abdoel Moeis adalah adat istiadat.

2. Amanat
Adapun amanat yang terkandung dalam novel Salah Asuhan adalah :
1) Janganlah melupakan adat istiadat negeri sendiri, jikalau ada adat istiadat dari bangsa lain, boleh saja kita menerima tapi harus pandai memilih, yaitu pilihlah adat yang layak dan baik kita terima di negeri kita.
2) Jangan memaksakan suatu pernikahan yang tidak pernah diinginkan oleh pengantin tersebut, karena akhirnya akan saling menyiksa keduanya.

3. Alur
Alur yang digunakan dalam novel Salah Asuhan adalah alur maju.

4. Tokoh
1) Hanafi, wataknya egois, keras kepala
2) Corrie, wataknya baik, mudah bergaul
3) Rapiah, wataknya sabar, lembut
4) Ibu Hanafi, wataknya sabar
5) Tuan Du Busse, wataknya tegas dan keras
6) Sutan Batuah, wataknya tegas dan keras
7) Syafei, wataknya berani
8) Si Buyung wataknya penurut

5. Latar
Latar atau tempat terjadinya yaitu :
1) Lapangan tenis di Minangkabau
2) Rumah Corrie dan rumah Hanafi di Minangkabau
3) Betawi
4) Semarang

6. Sudut Pandang
Dalam novel Salah Asuhan Abdoel Moeis ini, pengarang bertindak sebagai orang ketiga yaitu menceritakan kehidupan tokoh-tokoh pada novel tersebut.

7. Gaya Penulisan
Gaya penulisan dari novel ini apabila dilihat dari segi bahasa adalah bahasa Melayu dan ada juga diselipkan bahasa Belanda. Dalam penulisannya terdapat pantun dan sedikit pribahasa.



Read More